Bisnis

Bagaimana Cara Memulai Sebuah Bisnis?

Sejak seseorang menempuh pendidikan dasar hingga tinggi, khususnya di sebuah negara berkembang yang surplus demografi penduduk usia angkatan kerja produktif, pertanyaan tentang “Bagaimana Cara Memulai Sebuah Bisnis?” tidak akan dijumpai meskipun materi atau pelajaran tentang “Ekonomi” secara normatif sudah diajarkan pada tingkat pendidikan menengah bahkan menjadi sebuah mata pelajaran utama yang diujikan pada ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi program studi ilmu pengetahuan sosial.

Mengapa skill mendirikan sebuah bisnis tidak diajarkan? Salah satunya jawabannya adalah karena sistem pendidikan menanggapi surplus demografi angkatan usia produktif diarahkan untuk menjadi pegawai atau karyawan yang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan korporasi terhadap angkatan kerja. Hal ini tertuang dalam blueprint Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 (MP3EI)[1].

Kondisi sistem pendidikan yang mengarahkan surplus demografi angkatan usia produktif untuk menjadi pegawai dan karyawan pada umumnya terjadi di negara di negara-negara berkembang yang memiliki potensi pasar yang besar dengan luas wilayah yang besar serta angkatan usia produktif yang tinggi.

Padahal, jika potensi pasar dan luas wilayah negara yang besar dimanfaatkan untuk mendorong agar angkatan usia produktif menjadi pemilik dari bisnis-bisnis, bukan hanya diarahkan menjadi pegawai dan karyawan, maka hal tersebut akan meningkatkan perluasan lapangan pekerjaan baru, peningkatan peluang ekspor, peningkatan pendapatan penerimaan negara dan tentunya peningkatan pendapatan individu warga negara sebagai pelaku usaha.

Kembali ke persoalan sistem pendidikan, akibat langsung dari tidak diajarkannya materi serta praktik bisnis atau kewirausahaan di sekolah adalah lulusan pendidikan baik pendidikan menengah maupun tinggi menjadi khawatir terhadap ancaman pengangguran dan khawatir saat akan memulai sebuah bisnis karena selama menjalani proses pendidikan yang tidak singkat tersebut, sekolah sama sekali tidak mengajarkan materi tentang kemandirian finansial. Kemandirian finansial salah satunya dibentuk dengan jalan berupa berwirausaha, yang diupayakan untuk memberikan dampak pada keberhasilan untuk menciptakan peluang bagi diri sendiri dan masyarakat.

Kekhawatiran yang umumnya dirasakan ketika akan berwirausaha adalah akses terhadap permodalan serta resiko kebangkrutan, selain melawan arus pandangan umum tentang nyamannya tunjangan hidup dan tunjangan pensiun yang hanya didapatkan dari profesi-profesi sebagai pegawai negeri, sehingga tidak heran jika pada pendaftaran calon pegawai negeri sipil, lonjakan pendaftaran sangat tinggi dari tahun ketahun.

Lonjakan tersebut muncul akibat pola berfikir yang ditanamkan oleh sistem pendidikan yang hanya mengajarkan dan mendorong peserta didik “cara mendapatkan pekerjaan dan gaji tinggi”, bukan “cara menciptakan lapangan pekerjaan dan menggaji tinggi”.

Materi bisnis dan kewirausahaan yang tidak diajarkan di sekolah-sekolah mengakibatkan individu-individu memberanikan diri secara otodidak memulai sebuah bisnis dengan segala resiko yang akan dihadapi. Saya sendiri memulai sebuah bisnis di usia 24 tahun secara otodidak.

Bisnis saya bergerak dibidang kuliner dan agro industri, yakni coffee shop dan pabrik kopi. Dalam kesempatan ini, saya akan berbagi tentang tahap-tahap memulai sebuah bisnis berdasarkan pengalaman saya dalam memulai sebuah bisnis.

Saya membagi artikel ini menjadi 2 bagian, yakni Bagian Pertama adalah Cara Memulai Sebuah Bisnis[2] dan Bagian Kedua adalah Cara Mengembangkan Sebuah Bisnis.[3]

Bagian Pertama: Cara Memulai Sebuah Bisnis.[1]

Berikut saya rangkum 6 tahapan memulai sebuah bisnis yang dilakukan oleh para pebisnis pada umumnya dan yang telah saya jalani. 6 tahapan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tentukan Ide Bisnis

Ide bisnis dapat berdasarkan atas kebutuhan dari pengalaman pribadi atau berdasarkan observasi terhadap kebutuhan masyarakat. Ide bisnis akan menuntun kepada rancangan bisnis. Ide bisnis yang dijalankan tanpa rancangan bisnis beresiko terhadap kondisi bisnis yang berjalan tanpa arah sehingga mengakibatkan inefisiensi waktu dan anggaran.

Rancangan bisnis dapat meliputi jenis produk yang akan dijual, jenis konsumen, target pasar, inovasi produk, menganalisis kompetitor, memahami selera pasar, inikator keberhasilan hingga target waktu bisnis menjadi autopilot.

Anda dapat menggunakan bisnis model canvas atau analisis SWOT untuk membantu agar ide bisnis Anda terancang dengan sistematis. Telah terdapat pula aplikasi berbasis teknologi yang dapat membantu untuk merancang ide bisnis, diantaranya yakni:

https://canvanizer.com/https://www.tuzzit.comhttps://www.swotanalysis.com/ , http://i-swot.com/ dan masih banyak lagi.

2. Riset Pasar dan Konsumen

Sebuah ide bisnis diuji dengan riset kebutuhan pasar dan riset kebutuhan konsumen untuk mengukur seberapa besar peluang produk atau bisnis dapat diterima oleh pasar. Riset pasar juga membantu dalam menganalisis kompetitor.

Riset pasar dan konsumen membantu sebuah bisnis yang akan dibangun menciptakan inovasi berbasis kebutuhan pasar, tujuannya adalah agar bisnis atau usaha tidak menjadi bagian dari bisnis sporadis atau bisnis yang dibangun karenatrend sementara atau viral sesaat. Tujuan riset pasar dan konsumen adalah mengupayakan membangun pondasi bisnis yang kuat dan stabil sejak awal bisnis berdiri.

Hal penting dalam riset pasar dan konsumen juga adalah tidak perlu terlalu lama melakukan riset pasar dan konsumen, terlalu lama dalam riset pasar dan konsumen mengakibatkan ide bisnis lama memperoleh eksekusi.

3. Tentukan Peran dan Sektor Bisnis

Terdapat macam-macam sektor bisnis yang dapat dipilih oleh individu calon pebisnis, sektor tersebut diantaranya sektor barang atau sektor jasa. Sektor barang adalah sektor yang menjual barang setengah jadi (ekstraktif) maupun barang jadi (manufaktur). Contoh barang setengah jadi adalah kopi mentah/kopi hijau (green bean) sedangkan barang jadi adalah bisnis coffee shop.

Aktifitas di sektor barang dibagi dalam 2 peran, yakni produsen dan penjual (seller). Produsen adalah pelaku bisnis yang menciptakan dan memproduksi barang (produk) dan pemilik gudang barang. Sedangkan seller atau penjual adalah pelaku bisnis yang menjual barang dari produsen ke konsumen.

Produsen dapat bertindak sebagai seller untuk menjual produk, namun seller hanya berfokus pada penjualan produk tanpa memproduksi barang. Hubungan antara produsen dan seller dibangun diatas perjanjian kerjasama bisnis yang sah dihadapan hukum.

Seller dibagi menjadi 2, yakni reseller dan droshipper. Pelaku bisnis yang berperan sebagai reseller dan dropshipper berpotensi untuk tidak mengeluarkan modal dalam membangun bisnis, sehingga istilah “Bisnis Tanpa Modal” sekiranya sesuai dengan peran bisnis reseller dan dropshipper.

Sebagaimana janji saya dipoin sebelumnya, saya akan menjelaskan tentang perbedaan reseller dan dropshipper.

Reseller adalah orang yang menjadi penghubung antara produsen barang kepada konsumen. Keuntungan reseller berasal dari rabat yang diperoleh dari hasil penjualan barang milik produsen kepada konsumen. Sedangkan dropshipper sendiri, cara kerja dan hasil keuntungannya hampir serupa dengan reseller, namun dalam sistem penjualan dropship, produk yang ditawarkan kepada konsumen berada di produsen, dropshipper tidak memiliki, menyimpan atau memajang produk utuh, hanya katalog dan tampilan visual produk.

Sistem kerjasama antara produsen dan reseller bisa menggunakan sistem cash atau konsinyasi. Jika dengan sistem cash, maka reseller harus membayar produk yang dibeli dari produsen secara langsung atau bertahap, sedangkan jika dengan sistem konsinyasi, reseller dapat membayar barang yang dititip produsen jika barang terjual, istilah lain dari sistem konsinyasi adalah titip-jual.

Kerjasama penjualan antara produsen produk dengan reseller yang menggunakan sistem kerjasama titip-jual (konsinyasi) dan dropshipper, tidak perlu mengeluarkan modal sama sekali untuk memulai sebuah bisnis, cukup dengan memasarkan produk, maka rabat dari penjualan produk adalah keuntungan yang diperoleh oleh reseller dan dropshipper. Contoh bisnis yang membuka peluang reseller dan dropshipper adalah https://www.dropshipan.co.id/homehttps://dusdusan.com/http://reseller.dodolo.id/ dan sebagainya.

Sektor bisnis bidang jasa menjual jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Contoh bisnis bidang jasa adalah bisnis bidang konstruksi.

4. Rancangan Keuangan

Rancangan Keuangan menentukan jumlah pengeluaran belanja modal dan belanja jasa yang digunakan untuk membangun sebuah bisnis. Rancangan keuangan menjadi kendali agar belanja modal dan belanja jasa lebih efisien. Sebuah bisnis yang dibangun tanpa rancangan keuangan beresiko tidak mampu menganalisis laba dan pengeluaran. Kondisi ketidakseimbangan laba dan pengeluaran beresiko menimbulkan kebangkrutan.

5. Akses dan Sumber Terhadap Modal

Bagi sebagian orang yang ingin memulai sebuah bisnis, modal dianggap sebagai faktor utama sebuah bisnis dapat berjalan. Hal memang benar adanya namun tidak benar-benar tepat. Di era teknologi saat ini, banyak peluang-peluang bisnis yang tidak membutuhkan modal. Bisnis apa saja kah itu? Diantaranya yakni reseller dan dropshipper yang akan dibahas di poin berikutnya.

Terdapat berbagai macam akses terhadap modal, diantaranya yakni pinjaman, tabungan dan hibah. Terdapat berbagai macam sumber pinjaman, diantaranya yakni pinjaman dari perbankan dan Fintech (Financial Technolgy). Khusus untuk Fintech, sebelum menggunakan jasa Fintech, calon nasabah harus memeriksa apakah jasa Fintech tersebut terdaftar dan diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau tidak. Fintech yang aman adalah Fintech yang diawasi oleh OJK[4], banyak sekali kasus dan resiko yang akan dihadapi nasabah jika menggunakan jasa Fintech yang tidak terautorisasi oleh OJK.

Khusus untuk perbankan, jika individu sudah menjalankan sebuah bisnis minimal 1 tahun dan memiliki jaminan untuk pinjaman, individu pelaku bisnis dapat melakukan pinjaman berupa KUR (Kredit Usaha Mandiri). KUR dapat diakses hampir diseluruh bank di Indonesia dengan bunga yang kecil, tergantung jenis usaha dan jangka waktu pelunasan. Detail informasi untuk KUR dapat diakses di link berikut:

· Bank Mandiri

https://www.bankmandiri.co.id/kr…

· Bank BRI

https://bri.co.id/kur

· Bank BTN

https://www.btn.co.id/id/Convent…

Perihal pinjaman, selain pinjaman kepada perbankan dan Fintech, sebenarnya individu yang ingin memulai usaha dapat melakukan pinjaman kepada keluarga, namun tentu saja sebagai peminjam wajib untuk membayar jatuh tempo pinjaman.

Terakhir adalah tabungan sebagai modal dibangunnya sebuah bisnis. Tentu saja tabungan adalah sumber modal yang paling tidak beresiko. Perlu disesuaikan antara jumlah tabungan dengan kebutuhan belanja modal dan jasa yang akan dikeluarkan untuk membangun sebuah bisnis.

6. Belanja Modal dan Jasa

Dalam membangun sebuah bisnis, terdapat 2 bentuk pengeluaran. Pertama, belanja modal yang terdiri dari aset bergerak yang bermanfaat bagi berjalannya sebuah bisnis. Belanja modal dapat dikategorikan dalam bentuk inventaris usaha. Contoh dari belanja modal adalah pembelian furnitur, alat produksi, alat tulis kantor, kendaraan, pembelian keperluan elektronik, pembelian bangunan, dan sebagainya.

Setelah belanja modal, pengeluaran awal untuk berdirinya sebuah bisnis adalah belanja jasa. Belanja jasa adalah pengeluaran dalam bentuk jasa. Contoh pengeluaran dalam bentuk jasa adalah gaji karyawan diawal, jasa desain untuk interior, pemasangan jaringan internet, jasa pengerjaan material bangunan, dan lain sebagainya.

Belanja modal dan jasa bertujuan untuk melengkapi infrastruktur bisnis dan meningkatkan fasilitas performa pelayanan bagi konsumen.

Selanjutnya bersambung ke artikel “Bagaimana Cara Mengembangkan Sebuah Bisnis?”[5] yang akan berfokus pada cara mengembangkan sebuah bisnis dari perluasan pasar hingga bisnis menjadi autopilot.


Sumber foto:
https://www.davidbailey.co.uk/project/additional-services/


Catatan Kaki:

[1] Kementerian PPN/Bappenas :: Berita

[2] Bagaimana Cara Memulai dan Mengembangkan Sebuah Bisnis? (Bagian I)

[3] “Bagaimana Cara Memulai dan Mengembangkan Sebuah Bisnis?” (Bagian II-Habis)

[4] Penyelenggara Fintech Terdaftar di OJK per Desember 2018

[5] “Bagaimana Cara Memulai dan Mengembangkan Sebuah Bisnis?” (Bagian II-Habis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: