Politik

“Anne Frank in a Kafiya”


There never was a good war and bad peace.

-Benjamin Franklin-

Anne Frank in a Kafiya”, sepenggal kalimat tersebut bukanlah sekedar kalimat biasa. Tiap penggal kata dalam kalimat tersebut memiliki makna yang membuat pikiran menjelajah ke bagian lekuk sejarah perang dunia kedua hingga perang yang masih berlangsung di tepi barat.

Kalimat “Anne Frank in a Kafiya” muncul setelah sebuah foto profil Anne Frank menggunakan kafiyah pada sebuah halaman twitter yang berlokasi di Belanda dengan nama akun BDS Amsterdam, hingga saat ini akun twitter BDS Amsterdam masih aktif dengan permalink https://twitter.com/BDSAmsterdam      

Sebelum menemukan BDS Amsterdam, saya mengutak-atik kata kunci Palestine flag in kafiya dengan tujuan melihat model-model kafiya berbentuk bendera Palestina. Setelah saya menemukan banyak model kafiya dengan design bendera Palestina, tiba-tiba perhatian saya tertuju pada sebuah gambar anak perempuan berkalung kafiya merah, Anne Frank!

Bukan Sekedar Gadis Kecil

Anne Frank adalah seorang gadis kecil keturunan Yahudi Jerman yang meninggal akibat pemberantasan etnis Yahudi di Eropa oleh Hitler atau peristiwa yang disebut sebagai Holocaust. Anne Frank meninggal setelah tempat persembunyiannya di Belanda dalam pelarian dari jerman, diketahui oleh tentara NAZI yang bertugas mencari bangsa Yahudi di Belanda, Anne dan saudaranya yakni Margot Frank, di pindahkan ke kamp konsentrasi dan meninggal dalam kamp tersebut.

Buku frank berjudul “The Dairy of Young Girl” yang ditemukan setelah Frank meninggal dan diterbitkan oleh ayahnya yakni otto Frank, menyita perhatian dunia tentang kisah dirinya ditengah persembunyian dan pengasingan. Kisah gadis kecil dan kakak perempuannya berumur 19 tahun yang menjadi korban keganasan perang dan pemberantasan etnis Yahudi di Eropa pada saat itu. 

Tak berlebihan jika Anne Frank adalah suatu memori kuat bagi masyarakat dunia atas kejamnya sebuah peperangan dan pemberantasan etnis. perang atas dasar rasionalisasi apapun, tidak dibenarkan karena terkait hal penting yang menjadi sebuah pertaruhan utama yakni sebuah nyawa. Berkaca pada kisah Anne Frank, Frank adalah satu diantara jutaan anak-anak Yahudi yang menjadi korban keganasan sebuah ambisi politik dan kondisi yang buruk ditengah kecamuk perang.

Buku diari Anne Frank telah diterbitkan dalam berbagai bahasa didunia dan dibaca oleh berbagai kalangan, yang secara tidak langsung, tulisan Anne Frank menjadi bagian dari upaya melawan lupa atas kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh NAZI Jerman. Secara tidak langsung pula, Anne Frank menjadi simbol pengingat akan kejamnya sebuah upaya genosida dan gambaran pemderitaan anak-anak di masa perang.

Pasca perang dunia usai, etnis Yahudi Eropa baik yang masih berada di Eropa maupun yang pindah ke Amerika Serikat melakukan eksodus besar ke wilayah Palestina terhitung sejak 1948. Eksodus basar-besaran bangsa Yahudi ke Palestina dipicu oleh keyakinan terhadap suatu kepercayaan atas “tanah yang dijanjikan” dan janji Inggris untuk menyerahkan salah satu wilayah koloninya yakni Palestina dalam perjanjian Balfour kepada bangsa Yahudi. Eksodus yang pada awalnya memicu konflik teritorial dan kedaulatan selanjutnya memunculkan konflik susulan lain seperti konflik politik yang berujung pada konflik kemanusiaan. Dalam setiap konflik terbuka yang muncul, penggusuran-penggusuran beserta agresor yang bersiap mengeksekusi sasaran, perlawanan-perlawanan tanpa senjata, tentara melawan penduduk sipil dan ranjau darat adalah suatu pemandangan yang marak terjadi. Infrastruktur lembaga sosial hancur yang terdiri dari rumah, sarana pendidikan, kantor-kantor pemerintahan dan sebagainya belum lagi para pengungsi yang harus tinggal di kamp-kamp maupun yang sedang terjabak di arena konflik. Tentunya korban yang berjatuhan bukan hanya antara pihak yang sedang berseteru di arena lapangan pertempuran namun korban yang berjatuhan dari dampak pertempuran tak terkecuali anak-anak.

Namun, ditengah kelamnya sejarah perang Eropa dimasa lalu dengan pelanggaran HAM yang besar dimasa kini masih terus terjadi perang-perang yang justru jangka waktunya cukup lama yakni sejak titik awal usainya perang dunia kedua hingga masa kini khususnya dalam hal ini perang israel dan palestina, meski dikatakan bahwa konflik yang terjadi diantara kedua belah pihak bukanlah lagi murni konflik identitas namun konflik politik, namun konflik-konflik itu tidak berarti meniadakan dampak destruktif salah satunya yakni korban jiwa.

Kemanusiaan Bukan Standar Ganda

Sketsa “Anne Frank in a Kafiya” atau Anne Frank dengan mengenakan kafiya, mengingatkan akan simbol pedihnya suatu peperangan. Anne Frank in kaffiya bukan hanya mengenai simbol-simbol yang terpisah, simbol Anne milik Yahudi korban kejahatan Holocaust dan kafiya milik Arab Palestina korban agresi militer Israel. Namun sketsa Anne dan sebuah kaffiya adalah simbol yang seharusnya menyatukan nalar berfikir bahwa bahwa kemanusiaan bukanlah suatu standar yang dapat di terapkan ganda, satu sisi kemanusiaan begitu diperjuangkan satu sisi kemanusiaan adalah nilai yang nihil. Dimanapun kemanusiaan memiliki makna universal tanpa memandang etnis, agama, ras, suku, golongan atau pandangan apapun. dimanapun tempat peperangan berlangsung, ada banyak Anne Frank-Anne Frank lain yang tengah bertahan dan berjuang untuk melanjutkan hidup walau sedang hanya memiliki sebuah angan dan harapan untuk bebas dari sesuatu yang disebut ketidakmanusiawian.

Sekiranya gambar Anne Frank dan sebuah kafiya mampu membuka pikiran bahwa perdamaian dan kemanusiaan tidak mengenal batas waktu, wilayah, kepentingan maupun pandangan dan selera ideologis manapun.


Sumber gambar:
https://st-artgallery.nl/en/art/t-banned-frank/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: