Politik

Mei & Romantisme Pergerakan Mahasiswa

21 tahun lalu, kekuasaan Orde Baru tumbang dengan mundurnya presiden Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998. Kekuasaan yang berdiri selama 32 tahun tersebut usai setelah serangkaian perlawanan ofensif sepanjang bulan mei di tahun yang sama dilakukan oleh berbagai elemen lapisan masyarakat yang turun ke jalan dan menduduki senayan yang dimana dalam perlawanan tersebut terutamanya di lakukan oleh mahasiswa.

Bukan karena tanpa sebab mahasiswa yang menjadi mayoritas penggerak Reformasi, mahasiswa dengan bekal kesadaran transformatif dari pengetahuannya memiliki kecenderungan besar atas sebuah pembebasan, menelisik pesan dari rasio menuju kehendak untuk membebaskan. Tanpa mengenal sebuah konsentrasi disiplin ilmu apapun, pembebasan yang di inisiasi oleh kaum intelektual kerap muncul sebagai langkah menuju sebuah perubahan.

Reformasi pada tahun 1998 bukanlah usaha pertama para intelektual dalam pencapaian perubahan sosial, inisiator perhimpunan pertama Indonesia yakni Boedi Oetomo pada tahun 1908 pun muncul dari tangan para intelektual yakni mahasiswa kedokteran STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia pada masa Hindia Belanda. pergerakan para dokter tersebut menjadi pencetus awal gerakan intelektual pertama dan diperingati sebagai hari kebangkitan nasional Indonesia disetiap tanggal 20 Mei.

Euforia Reformasi kerap dirayakan dengan mengunjungi lorong waktu sejarah, mengingat kisah-kisah heroisme para pejuang Reformasi. Mahasiswa kerap tampil sebagai agen yang di puja dan di sanjung sebagai penggerak utama Reformasi.

Aksi-aksi simbolik pun muncul baik yang muncul dengan maksud reflektifis agar tetap mengingat dan membawa kesadaran reformis di sepanjang waktu dan perubahan rezim beserta dinamikanya maupun aksi yang sesungguhnya menimbulkan tanda tanya besar mengenai ceremoni mahasiswa menyambut hari kebangkitan nasional yang jatuh pada 20 mei dan hari dimana lengsernya kekuasaan Orde Baru dengan pernyataan mundurnya presiden Soeharto pada tanggal 21 mei sebagai simbol runtuhnya kekuasaan struktural Orde Baru, yakni ceremoni yang berupa aksi demonstrasi yang cenderung represif di beberapa daerah di Indonesia, sungguh seakan menunjukkan bahwa mahasiswa masa kini adalah tampak sebagai mahasiwa yang represif, mudah chaos dan tampak hanya sebagai crowd (kerumunan) massa sebagaimana yang tampak akhir-akhir ini muncul di media.

Hal ini memperlihatkan seakan terkikisnya esensi mahasiswa sebagai agen intelektual pembawa perubahan. Sikap yang mengikis suatu pola pergerakan dalam peradaban intelektual.

Turun ke jalan membawa aspirasi dihadapan penguasa negara adalah hal yang sah bahkan merupakan hak maupun kewajiban sebagai warga negara, akan tetapi dengan membawa pesan-pesan perjuangan, press release yang konstruktif beserta kajian mendalam, muncul sebagai esensi keberpihakan bukan semata eksistensi simbol atas euforia ceremoni berkala tahunan.

Kasus bentrok mahasiswa dengan aparat keamanan, bakar-membakar dan pengerusakkan properti maupun prasarana jalan bukanlah menunjukkan esensi dari upaya penyampaian pesan-pesan konstruktif terhadap pemerintah, namun justru hal tersebut menciderai citra dan menciderai regenerasi semangat Reformasi di zaman yang telah jauh meninggalkan tahun-tahun awal Reformasi, kala para pejuang Reformasi tidak selamanya akan mengasuh dan mengawal negara ini sehingga perlu kiranya menjaga subtansi semangat Reformasi diluar hal-hal yang hanya menjadi rutinitas tahunan untuk dirayakan.  

Refleksi atas Reformasi sesungguhnya begitu sangat kompleks dari berbagai aspek ditengah semakin dinamisnya perpolitikan Indonesia, terutamanya pula pada aspek hukum, ekonomi dan kultur yang harus terus di kawal, tanpa menciderai citrn pergerakan intelektual yang telah muncul sejak abad lalu pada 20 Mei 1908.

Mahasiswa karenanya pula peran besarnya dalam agenda penumbangan rezim era menuju Reformasi, berperan sebagai salah satu principle gate keeper yang memantau dan memiliki andil untuk turun tangan dalam upaya katalisator menuju esensi subtansi Reformasi.

Mahasiswa (pasca Reformasi) tidak sekedar menjadi agen simbol tahunan peringatan pada rentetan peringatan kejadian di bulan mei serta peringatan hari Kebangkitan Nasional, peringatan yang merupakan hari perkumpulan pertama intelektual yang terorganisir dalam suatu perhimpunan yang jatuh pada 20 mei 1908 maupun peringatan atas tumbangnya kekuasaan tiran pada mei 1998.

Perlu adanya perubahan arah gerakan mahasiswa yang kini cenderung simbolik dan terjebak pada euforia romantisme masa lalu.


Sumber foto:
https://nasional.kompas.com/read/2018/05/22/11452371/cerita-di-balik-aksi-mahasiswa-kuasai-gedung-dpr-saat-reformasi-1998?page=all

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: