Politik

Sastra dan Politik

Ketika membaca sebuah buku, saya mencoba melakukan klasifikasi tahun penerbitan buku, yakni sejak buku tahun terbitan zaman pemerintah kolonial Belanda masa Balai Pustaka atau dalam sastra dikenal dengan angkatan pujangga baru, buku-buku terbitan masa awal pergerakan Indonesia tahun 1900-awal hingga 1965,  masa orde baru tahun 1966 hingga 1998 dan masa pasca reformasi.

Hal ini saya lakukan mengingat dalam setiap kondisi sosial dan rezim politik membentuk psikologi masyarakat. Psikologi masyarakat inilah yang mempengaruhi masyarakat seni, masyarakat epistemik, jurnalis, dan sebagainya. Dalam bidang seni misalnya dadaisme dan surealisme di Eropa atau tema “Loss Generations” pada karya seni Eropa pasca Perang Dunia II, yang dimana kondisi sosial mempengaruhi subjek karsa dalam menciptakan karyanya. Begitu pula yang dialami oleh Indonesia, di Indonesia karakteristik rezim mempengaruhi gaya literasi misalnya dalam karya sastra maupun karya-karya ilmiah non-fiksi seperti rekaman teks sejarah maupun buku-buku metodologi ilmu sosial. 

Ketika penulis membaca esai Romo Mangun dalam buku cendekiawan dan politik yang terbit pada tahun 1980, sejak awal saya fikir buku ini akan secara “implisit” menyajikan tulisan-tulisan yang transformatif atau tidak mengusik rezim secara ekspilisit. Namun yang saya temukan berbeda, khususnya pada tulisan Romo Mangun.

Romo Mangun menjelaskan makna intelektual dengan landasan objektif-akademis dari terminologi bahasa, kajian dan wacana historis-komparatif, yang bermuara pada penguakkan kesadaran transformatif kepada pembaca. Bukan penyajian tulisan yang menggunakan tools objektif yang menyuburkan pasifitas, mendiamkan kondisi dan mendukung status quo terutama ditengah rezim dimana otoritarianisme politik mengganjal sendi-sendi kehidupan masyarakat misalnya apa yang terjadi pada seni dan literasi.

Terlebih dari pada itu, Romo Mangun pun dikenal telah menghasilkan karya-karya fiksi dan non-fiksi yang bersifat transformatif terutama karya-karya fiksi yang mampu memberikan pesan-pesan dan moral kehidupan kepada masyarakat di tengah otoritarianisme rezim pada masa itu.

Sastrawan yang mencul dengan karya-karya epik hasil kontemplasi atas kondisi sosiologis dan politik, mencoba melakukan upaya penjelasan kondisi sosial masyarakat, menggambarkan kebutuhan masyarakat dan solusi melalui narasi yang di sampaikan pada karya-karya fiksinya.

Sesungguhnya, dalam menekan kesadaran sosial masyarakat, karya fiksi yang terdiri dari novel, cerita-cerita pendek, dan epik karya lain, memiliki nilai signifikan dalam upaya membentuk ulang paradigma masyarakat mengenai kondisi sosial.

Sastra memiliki posisi penting dalam membentuk kesadaran masyarakat atau sekedar menggambarkan kondisi sosial secara kritis dan memiliki maksud politik pembebasan. Pentingnya sastra untul mendongkrak pemikiran masyarakat seperti karya Y.B Mangunwijaya dengan Burung-Burung Manyar, Leo Tolstoy dengan War and Peace, Harriet Beecher Stowe dengan Uncle Tom’s Cabin, Charles Dickens dengan Oliver Twist, Douwes Dekker dengan Max Havelaar, Chinua Achebe dengan Things Fall Appart, Victor Hugo dengan Less Miserables sehingga sastra pun memiliki posisi kuat untuk merubah keadaan sosial yang hampir sebanding dengan upaya konsep atau teori politik yang di gagas untuk melakukan rekonstruksi sistem sepeti yang dilakukan oleh Montesquieu dan Jean Jacques Rousseau dengan Trias Politica pada masa pasca Revolusi Perancis.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, perdebatan antara fungsi sastra yakni sastra untuk sastra atau sastra untuk perubahan belum selesai. Roman yang muncul dengan anggapan estetika seni misal salah satunya romansa romantisme atau sering disebut dengan picisan pun muncul sebagai contoh dari upaya melihat fungsi sastra untuk sastra.

Sastra dengan tipe roman seperti ini terlihat pada karya-karya William Shakes Pierre yang yakni Romeo and Juliet atau karya-karya karya-karya fiksi Agatha Christie. Di Indonesia, dengan konteks yang berbeda, kelompok sastrawan dengan fungsi sastra untuk sastra dan sastra untuk perubahan terbagi menjadi dua kelompok yakni MANIKEBU (Manifesto Kebudayaan) dan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Hingga saat ini sejak tahun 1965, problematika fungsi sastra terpecah diantara kedua kelompok ini.

Oliver Twist dan Uncle Tom’s Cabin

Di Eropa sendiri, sastra sebagai upaya menguak kondisi masyarakat yang tentunya bersandar dengan latar penulis karya tersebut. Meskipun tidak secara eksplisit menyampaikan tindak perlawanan, namun karya sastra ini membentuk paradigma berfikir kritis dalam melihat kondisi sosial terutama efek dan dampak langsung yang dialami masyarakat atas dinamika sosial yang terjadi.

Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe yang menggambarkan bagaimana kondisi masyarakat di Amerika Serikat pada masa perbudakan terhadap kulit hitam. Novel ini secara naratif menceritakan keadaan sosial dengan media novel-karya fiksi. Namun sesungguhnya dibalik cerita fiksi tersebut muncul nilai-nilai (value) akan gagasan abolisionisme (pembebasan perbudakan) dengan menyampaikan alur cerita yang membiarkan pembaca terbawa pada kesimpulan-kesimpulan pembaca sendiri dengan mengusik nurani pembaca atas narasi yang disampaikan.

Hal ini pun muncul pada novel karya Charles Dickens yang berjudul Oliver Twist. Oliver Twist menceritakan tentang kondisi sosial masyarakat Inggris pada masa Revolusi Industri. Novel ini menyampaikan kondisi pekerja anak yang mengalami kesengsaraan diakibatkan oleh upaya pabrik-pabrik manufaktur dalam rekrutmen dan memperkerjakan anak-anak dibawah umur dan perempuan dengan gaji yang rendah sedangkan industrialisasi menekan masyarakat dengan kondisi taraf pemenuhan kebutuhan hidup yang tinggi.

Kedua novel ini mewakili novel lain sebagaimana beberapa novel yang disebutkan diatas bahwa pada kenyataannya, sastrawan, novelis dan komunitas literasi lain merupakan agen dalam membentuk dan memisah-uraikan kondisi sosial hingga tercipta paradigma baru yang bermuatan kritis. Memberikan sumbangsih pemikiran untuk pergerakan.

Sebagaimana yang dialami oleh mendiang mantan presiden Venezuela, Hugo Chaves yang tergerak untuk melakukan perubahan sosial dan reformasi politik di Venezuela, salah satu faktornya setelah membaca Less Miserables karya Victor Hugo. Masyarakat dengan taraf hidup rendah, kondisi hukum dan politik yang tidak memihak kepada mayoritas masyarakat kecil, itulah yang dirasakan Chaves atas Venezuela setelah membaca Less Miserabless karya Victor Hugo yang menceritakan seorang pencuri roti dengan hukuman berat dari pemerintah sedangkan banyak pelanggar hukum dalam sistem pemerintahan yang bebas memainkan hukum itu sendiri. 

Dari hal ini, tampak bahwa peran budaya literasi yakni sastra memiliki peran sentral dalam upaya memberikan paradigma baru berfikir dalam narasi karya fiksi serta mendorong munculnya upaya perubahan atas kesadaran sosial yang di transfer melalui karya fiksi tersebut tidak menutup kemungkinan dalam upaya mendorong transformasi sosial.


Sumber gambar:
https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Stipula_fountain_pen.jpg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: